2

Tak Tong-Tong

dee 22 Juni 2010 Event Lomba, Spesial

“Siapa yang mau ikut Lomba Dance?” tanya Bu Guru kelas 3. Vena, Metta, Rissa, dan Gadis mengacungkan jari. Hani yang amat berbakat Menari terlihat ragu. “Saya tanya Mama dulu, ya?” “Pesertanya 5 orang, nih!” jelas Bu Guru lagi. “Kurang 1, siapa mau?” “Saya mau, Bu …” Suara Pinkan tiba-tiba terdengar. Jadilah terbentuk Kelompok-5. Sekarang cari lagunya … Sembilan hari lagi … Lhailaa … saya ngakak-ngakak mendengar peristiwa Pilpeda (Pilihan Penari Daerah, hehe …) ini. “Lha terus piye?” Kesaktian Ortu dan Guru dihimpun. Diputuskan untuk mengimpor Pak Moko juara Dance Indonesia yang sudah melanglang ke manca negara. “Suruh dia menciptakan Tarian Daerah.” Wena sudah wanti-wanti jangan menari kayak orang besar, apalagi kayak penari seksi. “Pokoknya, tari Anak, lho!” Sembilan hari … Para Guru berunding untuk kemudian memilih Lagu Sumatra, yang judulnya Tak Tong Tong. Weleh weleh, kok apik temen … Pak Moko kulihat mencoba merasakan irama lagu, dan bergerak-gerak dengan mata terpejam. Setelah mengganti gerakan 101 kali, hehe … akhirnya dia terlihat mantap, dan mulai mengajarkan gerakannya pada para Guru. Dan mereka menularkannya pada 5 Sekawan itu.

Hari Senin aku dan Mama Rissa melihat mereka berlatih. Aku terkekeh-kekeh melihat kacau-balaunya gerakan mereka. Lha baru saja belajar! Mama Rissa agak pucat, “Wah, Cik Lan, apa bisa ya mereka ikut Lomba besok Minggu? Lha nyrepek banget! Apa bisa hafal?” “Lha, mbok wis ben. Pokoknya yang terbaik yang mereka bisa, to? Juara atau ndak, ndak pentiiinggg …” kataku menghibur. “Wah, lha nek elek banget ya piye?” “Ya kita lihat aja, nanti. Jangan lupa, pokoknya yang terbaik yang mereka bisa. Anak-anak biasanya tampil luarbiasa di panggung, lho.”

Belasan kali lagu diputar. Belasan kali mereka latihan, latihan, latihan. Dengan cepat Vena, Metta, Rissa, dan Gadis mulai tertata. Pinkan yang phlegmatic, sehingga gerak tubuhnya tidak begitu gesit, terseok-seok, tertatih-tatih, tertahan-tahan, terjatuh-jatuh. Wah, tidak bagus, nih! Maka Guru Tari Paling Hebat di Dunia pun turun gunung: Bu Lanny. “Pinkan, gini gerakannya. Kakimu harus gini. Satu-dua-tiga-empat …” Dengan amat kaku dan wagu dan lucu saya mulai mengajarkan gerakan-gerakan yang Pinkan belum bisa. Tentu saja, Pinkan merasa geli melihat segala gerak saya. “Kalau Bu Lanny aja berani menari kayak gitu, aku bisa menari dengan jauuuhhhh lebih baik!” mungkin begitu kata hatinya. Patuh dia meniru si MahaGuru, dan akhirnya, ketemulah gerakan yang benar! Lalala … Jadi, para Pembaca yang budiman, ada 2 cara mengajar: 1. Tunjukkan dengan bagus, dengan sempurna, untuk ditiru Anak; atau 2. Tunjukkan dengan kaku, dengan wagu, sehingga si Anak merasa “Kalo cuma kayak gitu, aku bisa lebih baik!” Haha …

Maka, Minggu 21 Februari itu kami punya 2 gawe: 1. Penerimaan TK dan SD PUTRA BANGSA, dan 2. Lomba Dance dan Lukis di SMP Pangudi Luhur. Grobyak-grobyak-grobyak … Segera setelah Pertemuan Ortu selesai, kami semua pergi ke sana. “Gimana?” Olala … Dance TERNYATA JUARA 2!!! Wah, wah, wah … Miracles happen every day … Kontan Bu Esti yang paling gembeng dan tegang meloncat gembira dengan airmata yang deras mengalir. Mama Vena yang biasanya terlihat amat kalem ternyata juga melompat bersorak. Silakan amati fotonya.

Niko duta Lomba Melukis PUTRA BANGSA ternyata juga menyabet Juara 3. Aku mengagumi idenya yang menunjukkan pembersihan di dasar laut. Wah, wah, wah … Kreatif, kreatif, kreatif … Jadilah kami semua tertawa lebaaarrrr … Lomba-lomba yang kami ikuti membuahkan hasil yang maniiisss …

Foto kegembiraan memperlihatkan kontras menarik. Anak-anak Penari tampak chic dalam kostum tari bak zaman Aladin, sementara Niko santai dengan celana kolornya. “Biar nyaman nggambarnya,” kata Mamanya. Tetapi, senyum semua Ortunya sama, kan? Happy, dan bangga! Rancak bana!

Comments (2)

 

  1. kiki mengatakan:

    Pak Adi, Niko Juara 2, bukan Juara 3

  2. pinkan mengatakan:

    yg kanan paling cantik ya :p

Tinggalkan Pesan